Sabtu, 22 Desember 2012

TERAPI PENDERITA LATAH DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORISTIK






Tingkah laku latah, dilihat dari segi sosiologis dan persebaran budaya, hanya ditemui di kawasan Asia, tidak ditemukan pada orang-orang Eropa, Amerika ataupun Afrika. Latah khususnya ditemukan pada daerah Asia tenggara, yang dihuni oleh sub ras dari ras Mongoloid.
Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap secara tak terkendali setelah terjadinya reaksi kaget. Latah adalah ucapan atau perbuatan yang terungkap atau tidak terkendali, pascareaksi kaget (starled reaction). Saat latah muncul yang berkuasa alam bawah sadar (subconcious).
Latah adalah respon reflektif berupa perkataan atau perbuatan yang tidak terkendali yang terjadi ketika seseorang merasa kaget. Latah bukanlah penyakit mental, tapi lebih merupakan kebiasaan yang tertanam di pikiran bawah sadar. Setiap orang latah punya respon yang berbeda-beda dalam bereaksi terhadap stimulus yang mengagetkan, diantarnya:
  • Mengulangi perkataan orang lain
  • Meniru gerakan orang lain
  • Mengucapkan kata-kata tertentu berulang-ulang.
  • Melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”jongkok” atau "loncat", dia akan melakukan perintah itu seketika.
Latah memang bukan gangguan psikologis yang serius dan malah banyak orang menganggapnya sebagai hiburan atau sesuatu yang lucu. Namun jika seseorang ingin tampil berwibawa atau tidak ingin lagi menjadi bahan godaan / tertawaan orang lain, maka harus menghilangkan kebiasaan latah tersebut.
Penyebab Latah
Ada beberapa keadaan yang menyebabkan timbulnya gangguan tingkah laku latah, yaitu;
a. Pemberontakan. Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang dilarang tanpa merasa bersalah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih kearah obsesif karena ada dorongan yang tidak terkendali untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.
b. Kecemasan. Gejala latah muncul karena yang bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata-rata, dalam kehidupan pengidap latah selalu terdapat tokoh otoriter, entah ayah atau ibu. Bisa jadi, latah merupakan jalan pemberontakannya terhadap dominan orang tua yang sangat menekan. Walau demikian tokoh otoriter tidak harus berasal dari lingkungan keluarga.
c. Teori Pengondisian. Inilah yang disebut latah gara-gara ketularan.
Seseorang mengidap latah karena dikondisikan oleh lingkungannya, misalnya gara-gara latah, seseorang merasa diperhatikan dan diperhatikan oleh lingkungan. Dengan begitu, latah juga merupakan upaya mencari perhatian. Latah semacam ini disebut ”latah gaul”.
Macam-macam Latah
Ada empat macam latah yang kita ketahui, yaitu:
1. Ekolalia: mengulangi perkataan orang lain
2. Ekopraksia: meniru gerakan orang lain
3. Koprolalia: mengucapkan kata-kata yang dianggap tabu/kotor
4. Automatic obedience: melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”sujud” atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Bahaya Latah
Latah sangat menyiksa jika mengobservasi penderitanya. Mereka kelihatan sangat terganggu dengan segala tingkah lakunya yang repetitif baik dari segi verbal maupun motorik. Bahaya lainnya adalah:
1. Mengekang Kreatifitas. Karena kita sudah terbiasa untuk meniru orang lain, berbuat seperti orang lain bertingkah laku. akhirnya kita kehilangan daya untuk ‘mencipta’ hal-hal yang baru, yang lebih segar dan kita akan mapan dengan kejumudan. “be a leader dont be a follower
2. Mengikis keberagaman. Jangan harap menemukan hal-hal ‘baru’ jika budaya ini terlanjur menjadi akut. semua orang akan memilih untuk seragam ketimbang bersusah payah membuat hal yang sama sekali lain. Bisa-bisa slogan kita akan berubah dari “walaupun berbeda namun tetap satu jua” menjadi “walaupun satu asalkan berbeda-beda”. Baik Buruknya Tergantung Peniruan Menurut Evi Elviati, Psi., psikolog dari Essa Consulting Group, baik buruknya anak bersikap latah terhadap sang teman tergantung apa yang ditirunya. Jika sifatnya negatif, maka orang tua harus segera menghentikan dengan memberinya penjelasan kepada anak. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah hal-hal positif, maka orang tua justru harus memberikan dukungan agar anak terus melakukan hal itu.
3. Latah adalah tingkah laku yang bisa dipelajari sehingga dapat menyebar ke orang-orang disekitarnya.
4. Membuat komunikasi dan tingkah laku kelihatan kurang etis jika menderita latah.
5. Jika terjadi pada anak, akan menjadi ajang cemoohan bagi teman-temannya, sehingga anak akan menarik diri dari pergaulan sosialnya atau minder.

DESKRIFSI KASUS
Di lapangan saya menemukan satu klien yang mengalami penyakit latah, klien bernama aisah berusia 46 tahun, pekerjaan sebagai IRT. Klien mengalami latah sejak usia remaja, karena klien sering di kagetin temen2nya sehingga menjadi kebiasaan dan berdasarkan keterangan klien sangat sulit di hilangkan. Dan sudah saya buktikan ternyata beliau benar-benar latah. Nah di sini saya menggunakan konsep terapi behavioristik.Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif.







TERAPI BEHAVIORISTIK
A. Defenisi dan Konsep Utama Terapi Behavioristik
Terapi tingkah laku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku kearah cara-cara yang lebih adaptaif. Pendekatan ini, telah memberikan sumbangan-sumbangan yang berarti, baik pada bidang-bidang klinis maupun pendidikan.
Behavioristik adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dalil dasarnya adalah bahwa tingkahlaku itu tertib dan bahwa eksperimen yang dikendalikan dengan cermat akan menyingkap hukum-hukum yang mengendalikan tingkah laku. Behavioristik ditandai oleh sikap membatasi metode-metode dan prosedur-prosedur pada data yang dapat diamati.
Pendekatan behavioristik tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan-kederungan positif dan negatif yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkah laku manusia dipelajari. Meskipun berkeyakinan bahwa segenap tingkah laku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan factor-faktor genetic, para behavioris pembuatan putusan sebagai salah satu bentuk tingkah laku. Pandangan para behavioris tentang manusia sering kali didistorsi oleh penguraian yang terlampau menyederhanakan tentang individu sebagai bidak nasib yang tak berdaya yang semata-mata ditentukan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dan keturunan dan dikerdilkan menjadi sekedar organisme pemberi respon. Terapi tingkah laku kontemporer bukanlah suatu pendekatan yang sepenuhnya deterministic dan mekanistik, yang meyingkirkan potensi para klien untuk memilih. Hanya “para behavioris radikal” yang menyingkirkan kemungkinan menentukan diri dari individu.





B. Ciri-ciri Terapi Behavioristik
Terapi tingah laku, berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya, ditandai oleh:
a. Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik
b. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment
c. Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah
d. Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi.
Pada dasarnya, terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang bersifat umum tetang tujuan ditolak. Klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.
Karena tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas, tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, maka hasil-hasil terapi menjadi dapat dievaluasi. Terapi tingkah lakumemasukkan criteria yang didefenisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menenkankan evalusasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan, maka evolusia dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosesdur-prosedur treatment menandai proses terapeutik.
C. Proses Terapi Behavoristik
Tujuan-tujuan psikoterapi menduduki suatu tempat yang sangat penting dalam terapi tingkah laku. Klien menyeleksi tujuan-tujuan terapi yang secara pesifik ditentukan pada permulaan proses terapeutik. Penaksiran terus-menerus dilakukan sepanjang terapi untuk menentukan sejauh mana tujuan-tujuan terapeutik itu secara efektif tercapai.
Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang maladaptif. Jika tingkah laku neurotic learned, maka bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh. Terapi tingkah laku pada hakikatnya terdiri atas penghapusan hasil belajar yang tidak adapatif dan pemberian pengalaman-pengalaman belajar yang di dalamnya terdapat respon-respon yang layak, namun belum dipelajari.
Ada beberapa kesalahpahaman yang menyangkut masalah tentang tujuan-tujuan dalam terapi tingkah laku. Salah satu kesalah pahaman yang umum adalah bahwa terapi semata-mata menghilangkan gejala-gejala sautu gangguan tingkah laku dan bhawa setelah gejala-gejala itu terhapus, gejala-gejala baru akan muncul karena penyebab-penyebab yang mendasarinya tidak ditangani. Kesalahpahaman umum lainnya adalah bahwa tujuan-tujuan klien ditentukan dan dipaksakan oleh terapis tingkah laku. Tampaknya ada unsure kebenaran dalam anggapan tersebut, terutama jika menyinggung beberapa situasi, misalnya situasi di rumah sakit jiwa. Bagaimanapun, kecenderungan yang adadalam terapi tingkah laku modern bergerak kearah pelibatan klien dalam menyeleksi tujuan-tujuan dan memandang hubungan kerja yang baik antara terapis dan klien sebagai diperlukan (meski dipandang belum cukup) guna memperjelas tujuan-tujuan terapeutik dan bagi kerja yang kooperatif ke arah pencapaian tujuan-tujuan terapeutik tersebut.
1. Fungsi dan peran Terapis
Terapis behavioristik harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, pada kliennya. Terapis tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dana dalam menentukan prosesdur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkah laku yang baru dan adjustive.
Goodstein menyebut peran terapis sebagai pemberi perkuatan. Dan fungsi lainnya adalah peran terapis sebagai model bagi klien. Bandura menunjukkan bahwa sebagian besar proses belajar yang muncul melalui pengalaman langsung juga bisa diperoleh melalui pengamatan terhadap tingkah laku orang lain.
2. Pengalaman Klien dalam Terapi
Salah satu sumbangan yag unik dari terapi tingkah laku adalah suatu system prosedur yang ditentukan dengan baik yang digunakan oleh terapis dalam hubungan dengan peran yang juga ditentukan dengan baik. Terapi tingkah laku juga memberikan kepada klien peran yang ditentukan dengan baik, dan menekankan pentingnya kesadaran dan partisipasi klien dalam proses terapeutik.
Keterlibatan klien dalam proses terapeutik karenanya harus dianggap sebagai kenyataan bahwa klien menjadi lebih aktif. Satu aspek yang penting dari peran klien dalam terapi tingkah laku adalah klien di dorong untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru dengan maksud memperluas perbendaharaan tingkah laku adaptif.
3. Hubungan antara Terapis dan Klien
Ada suatu kecenderungan yang menjadi bagian dari sejumlah kritik untuk menggolongkan hubungan antara terapis dengan klien dalam terapi tingkah laku sebagai hubungan yang mekanis, manipulative, dan sangat impersonal. Peran terapi yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah laku tidak dicetak untuk memainkan peran yang dingin dan impersonal yang mengerdilkan mereka menjadi mesin-mesin yang deprogram yang memaksakan teknik-teknik kepada para klien yang mirip robot. Bahwa factor-faktor seperti kehangatan, empati, keotentikan, sikap permisif, dan penerimaan adalah kondisi-kondisi yang diperlukan, tetapi tidak cukup bagi kemunculan perubahan tingkah laku dalam proses terapeutik.

TEKNIK TERAPI LATAH DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
Salah satu sumbangan terapi tingkah laku adalah pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki melalui motode ilmiah. Teknik-teknik tingkah laku harus menunjukkan keefektifan melalui alat-alat yang objektif dan ada usaha yang konstan untuk memperbaikinya.
Dalam terapi tingkah laku, teknik-teknik spesifik yang beragam bisa digunakan secara sistematis dan hasil-hasilnya bisa dievaluasi. Teknik-teknik ini bisa digunakan jika saatnya tepat untuk menggunakannya, dan banyak diantaranya yang bisa dimasukkan ke dalam praktek psikoterapi yang berlandaskan model-model lain. Teknik-teknik spesifik yang akan diuraikan di bawah ini bisa diterapkan pada terapi latah yang dimaksud diatas.
Teknik terapi behavioristik yang cocok untuk klien dengan perilaku latah adalah terapi Pengondisian Operan.
Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.
Metode-metode Pengondisian Operan
A. Perkuatan Positif
Pembentukan pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Ini adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Pemerkuat primer dan sekunder diberikan untuk rentang tingkah laku yang luas. Pemerkuat primer memuaskan kebutuhan fisiologis contohnya makan, minum atau isterahat. Pemerkuat sekunder memuaskan kebutuhan psikologis atau social, contohnya pujian, penghargaan, persetujuan atau senyuman.
B. Pembentukan Respon
Dalam pembentukan respon, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkuat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir. Klien yang latah yang ingin menghilangkan tingkah laku latahnya, diberikan perhatian dan persetujuan dengan keinginannya tersebut. Ini juga bisa diberikan pemerkuat primer dan sekunder.
C. Perkuatan Intermitten
Perkuatan intermitten adalah perkuatan dengan tingkah laku yang telah terbentuk. Untuk memaksimalkan nilai pemerkuat-pemerkuat, terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul. Perkuatan-perkuatan terus menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Misalnya dalam beberapa hari terapi, klien dengan tingkah laku latah menunjukkan perilaku yang positif (latahnya berkurang dalam kondisi terkejut).
D. Penghapusan
Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan, maka respons tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah sautu periode, cara untuk menghapus tingkah laku yang mal adaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang mal adaptif itu. Misal dalam tingkah laku latah, maka tidak boleh diberikan perkuatan misalnya pujian, kalau bisa perkuatan negatifnya yang diperbesar untuk membantu tingkah laku positif muncul.
E. Pencontohan
Dalam pencontohan, klien yang latah mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Bandura menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya.
F. Token Economy
Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token economy, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan-perkuatan yang bisa diraba (misal kepingan logam) yang nantinya bisa ditukar dengan objek-objek atau hak istimewa yang diingini.
Token economy merupakan salah satu contoh dari perkuatan yang ekstrinsik, yang menjadikan orang-orang melakukan sesuatu untuk meraih “pemikat diujung tongkat”. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.









KESIMPULAN
Syarat munculnya latah adalah adanya keterkejutan. Untuk mengurangi dan menyembuhkan latah, ia harus bisa menemukan ketenangan hidup. Lingkungan memang harus berempati dan mendukung. Lingkungan sangat menentukan bagaimana seorang penderita latah bisa tertangani. Lingkunganlah yang mengkondisikan tingkah laku, jika tingkah laku itu tidak mendapat reinforcement/pemerkuat dari lingkungan dan proses terapi yang sesuai, tingkah laku latah akan dapat disembuhkan.
Ada dua syarat yang harus penuhi klien agar kebiasaan latah bisa dihilangkan dengan cepat dan hasilnya permanen dilihat dari pendekatan behavioristik, yaitu:
·         Klien harus sungguh-sungguh ingin berubah dan serius ingin menghilangkan kebiasaan latahnya. Melakukan penolakan dengan tingkah laku latah yang dialaminya, serta menjalani terapi secara intensif.
·         Klien harus setuju untuk menganggap latah sebagai kebiasaan yang kurang baik dan merugikan diri sendiri. Kebiasaan latah akan sulit dihilangkan atau bisa saja kambuh sewaktu-waktu apabila klien menganggap menjadi latah itu lucu, menguntungkan dan menyenangkan. Karena itu tingkah laku latah, pemerkuat positif harus diberikan untuk tingkah laku yang positif










Daftar Pustaka
Corey, Gerald.2007.Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung:Refika Aditama
Mappiare, Andi.Pengantar Konseling & Psikoterapi.Jakarta:Raja Grafindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar